Tampilkan postingan dengan label My Inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Inspiration. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 April 2010

0 komentar


Sebuah Tanya

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

(Puisi Gie)

.................................................

..................................................

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”




Senin, 17 Agustus 2009

Rujukan dokter bedah,..Al Razi,...

0 komentar
Ketokohan ilmuwan Islam yang bernama lengkap Muhammad bin Zakaria ini memang sukar ditandingi dalam dunia pengobatan. Ia yang lebih populer dipanggil Al-Razi ini adalah orang pertama membuat jahitan pada perut dengan benang dibuat dari serat. Dia juga orang pertama yang berhasil membedakan antara penyakit cacar dengan campak.

Sejarah mencatat, Al-Razi dilahirkan di Ray, Parsi (Iran) pada tahun 240 Hijriah/854 Masehi. Tak lain, dia adalah guru dari ilmuwan di bidang kedokteran yang sangat terkenal, Ibnu Sina.

Ketika masih kecil, perhatiannya sudah begitu besar dalam bidang ilmu pengetahuan, khususnya bidang kedokteran. Al-Razi pun belajar dengan tekun setiap waktu dan kegigihannya tersebut kemudian diganjar prestasi mengagumkan pada setiap tingkatan sekolah yang dilaluinya.

Beranjak dewasa kemampuan Al-Razi kian bertambah hingga dipercaya menjadi tenaga pengajar dan peneliti pada sejumlah lembaga. Penghargaan satu per satu diperoleh. Dia pernah mendapat gelar Jalinus Arab (Galen of the Arab) kerana ketokohannya sebagai pengajar di Rumah Sakit Baghdad, Irak.

Tak hanya berkiprah sebagai pengajar saja, Al-Razi juga mengisi waktunya dengan mengadakan serangkaian penelitian di bidang pengobatan serta tak lupa, menulis buku. Sebanyak 10 buku ilmu perobatannya dia hasilkan dan kini sudah terjemahkan ke dalam bahasa Latin. Buku karya Al-Razi paling termasyhur berjudul Al-Hawi Fi Ilm Al-Tadawi yang terdiri dari 30 jilid dan dirangkum ke dalam 12 bagian.

Banyak hal baru yang dibahas dalam buku ini. Di antara yang berkaitan dengan penyembuhan penyakit serta jenis penyakit; upaya menjaga kesehatan; punggung dan tengkuk (yang patah); obat-obatan dan makanan; pembuatan ramuan obat-obatan; industri kedokteran; farmasi; tubuh; pembedahan; dan pengawetan anggota tubuh. Selain itu, juga ada mengenai pengkelasan bahan galian serta peralatan dan obat yang digunakan lengkap dengan arahan terperinci.

Sebuah buku lain karyanya, Al-Mansuri, berisi tentang pembedahan seluruh tubuh manusia. Buku-buku karya Al-Razi itu lantas diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dan menjadi bahan rujukan serta panduan dokter di seluruh Eropa hingga abad ke-17.

Ilmunya yang amat mendalam berkaitan tatacara perobatan, terbukti bermanfaat dalam usaha pencarian ramuan obat dari bahan tumbuhan dan hewan serta cara yang tepat untuk digunakan dalam perawatan pasien. Salah satunya yang monumental, adalah bahan serat untuk menjahit luka terbuka.

Raksi kimia tak luput dari pengamatannya. Termasuk pula di antaranya ilmu dan tatacara kimia yang menjelaskan pemrosesan air raksa, belerang (sulfur), arsenik, serta logam lain seperti emas, perak, tembaga, plumbum dan besi.

Sebagai seorang ilmuwan Islam dalam bidang perobatan, ketokohan al-Razi tidak terbatas dalam menimba ilmu dan mengarang buku semata-mata. Pada saat bersamaan, dia kerap mengemukakan pemikiran yang kritis dalam menyumbangkan rumusan keputusan oleh kerajaan.

Ketika, misalnya, penguasa kerajaan meminta Al-Razi membangun sebuah rumah sakit di kota Baghdad, dia lantas menggunakan satu kaedah yang sangat baik untuk memilih lokasi rumah sakit tersebut. Al-Razi meletakkan sepotong daging di tempat yang berlainan di Baghdad dan daging itu dibiarkan saja sehingga menjadi busuk.

Kemudian dia membangun rumah sakit di tempat yang dagingnya paling lambat busuk. Teorinya, tempat itu mempunyai udara bersih, sedikit pencemaran, dan lokasi sesuai untuk lokasi rumah sakit.

Sumbangan Al-Razi dalam bidang filsafat juga tidak dapat dikesampingkan. Pada disiplin ilmu ini, hal yang menjadi pilihan ialah mengenai pencipta, jiwa manusia, hakikat, angkasa, dan masa.

Kini, sekitar 40 manuskrip karya Al-Razi tersimpan di museum dan perpustakaan di beberapa negara, seperti di Iran, Perancis, dan Inggris. Sepanjang hidupnya, tokoh ilmuwan ini tercatat telah menghasilkan sebanyak 224 judul buku, 140 diantaranya adalah dalam bidang pengobatan. Al-Razi meninggal dunia tahun 320 Hijrah/932 Masehi. ( yus/berbagai sumber )

Rabu, 12 Agustus 2009

Dokter - dokter penuh Pengabdian,...

0 komentar

Profesor Dr dr Paul Tahalele

Gula Pasir Penyembuh Luka


Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, ini memang identik dengan gula pasir. Di tangan ahli bedah jantung dan pembuluh darah dan Kepala Laboratorium Ilmu Bedah Rumah Sakit Umum Dr Soetomo Surabaya ini gula pasir digunakan untuk memperlambat pembusukan luka, khususnya luka bernanah.

Andai relawan medis yang berangkat ke Nanggroe Aceh Darussalam dibekali pengetahuan praktis mengenai pencegahan pembusukan organ tubuh akibat luka bernanah dengan menaburkan gula pasir, mungkin ribuan korban dapat ditolong tanpa harus diamputasi. Padahal, pengetahuan itu sudah coba disosialisasikan Paul Tahalele.

"Gula pasir sangat efektif menyembuhkan luka bernanah karena bersifat hyperosmol dan higroskopis yang berfungsi menarik bakteri agar luka tidak membengkak," ujar Tahalele saat ditemui di ruang kerjanya.

Dikatakan bersifat hyperosmol karena gula mampu menyerap air sehingga bakteri yang terkandung pada luka itu otomatis ikut terserap. Bersifat higroskopis karena mampu menarik dan membunuh bakteri. Perpaduan kinerja kedua zat ini mampu menghilangkan bakteri penghambat proses penyembuhan pada luka bernanah.

Perkenalan Tahalele yang ahli bedah jantung dan pembuluh darah dengan gula pasir (sukrosa) diperoleh dari dosennya saat menimba ilmu di Universitas Friederich Alexander Erlangen, Nuernberg, Jerman, 23 tahun lalu.

Menurut dokter yang hobi renang dan aerobik ini, ilmu kedokteran zaman Mesir Kuno sudah mengenal pengobatan menggunakan sukrosa. "Nenek moyang kita mengenal pula pengobatan madu untuk mengeringkan luka," jelasnya.

Namun, karena terlalu banyak pilihan obat yang disodorkan industri, warisan yang sangat bermanfaat itu terlupakan. Metode pengobatan tradisional ini hanya diingat saat kita tersekap keterbatasan akibat bencana.

Tahalele yang menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Bedah Indonesia menerapkan metode itu kepada sebagian besar pasien penyakit jantung yang dia operasi tanpa membuahkan keluhan. Pasien yang menderita infeksi rongga di bawah tulang dada disertai nanah, misalnya, penyembuhannya berlangsung cepat setelah ditaburi sukrosa.

Meski demikian, kata dokter yang biasa dipanggil "Paul" oleh mahasiswa maupun sejawatnya, hanya luka bernanah, baik skala besar maupun kecil, saja yang bisa diberi gula pasir. Itu pun sebaiknya dilakukan setelah memeriksa dan memastikan jenis infeksi, sebagaimana tertuang dalam prosedur perawatan luka bernanah.

Ahli bedah yang berhasil melakukan operasi implantasi alat pacu jantung pada pasien tertua usia 90 tahun dan operasi pengikatan pembuluh darah yang menghubungkan aorta dengan arteri paru pada bayi usia lima hari ini awalnya ingin menjadi pilot.

Pria kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, 4 Maret 1948, ini mengaku menjadi dokter karena kebetulan. Saat itu ia diterima di tiga universitas, yaitu Universitas Gadjah Mada, Universitas Udayana, dan Universitas Airlangga (Unair), namun pilihan jatuh pada Unair.

Mantan Ketua Program Studi Ilmu Bedah yang sekarang menjadi penguji nasional dokter spesialis bedah umum Indonesia itu menyelesaikan sekolah dasar di Bogor tahun 1960, sekolah lanjutan pertamanya di Mataram, dan SLTA di Malang, Jawa Timur.

Tahun 1967 ia masuk Fakultas Kedokteran Unair dan menyelesaikan studi tahun 1975 dilanjutkan program pendidikan dokter spesialis (PPDS) bagian ilmu bedah dan lulus tahun tahun 1981. Baru tahun 1987, Tahalele yang mengambil spesialisasi jantung dengan alasan organ tubuh tersebut sangat vital bagi kehidupan itu melanjutkan studi pascasarjana di Jerman program ilmu bedah jantung dengan judul disertasi Verhalten der Haemostase Unter Extrakoporale Zirkulation.

Suami drg Kustiani Hartiningsih itu mengambil gelar doktor di Unair. Disertasinya tentang Model Pendidikan Pra Bedah Terpadu kini menjadi acuan pendidikan ilmu bedah. Tidak heran, saat dikukuhkan menjadi guru besar, anggota Tim Kerja Persiapan UU Praktik Kedokteran ini banyak menyoroti penurunan kualitas dokter bedah akibat kurangnya tatap muka dosen dengan mahasiswa.

Kritik tajam terhadap perkembangan pendidikan kedokteran pernah dilontarkan mantan aktivis kampus ini. Ia menentang perilaku beberapa rekan seprofesi yang lebih mengutamakan pengaplingan dan koneksi dalam penerimaan mahasiswa daripada profesionalitas. Ia juga menolak dikotomi antara kedokteran negeri dengan swasta karena menurutnya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.

Pengalaman paling berkesan adalah ketika ada seorang dokter umum peserta PPDS ilmu bedah tahun pertama bukan alumnus Unair. Saat itu ia menjabat sebagai Kepala Laboratorium Ilmu Bedah. Dokter itu anak petani asal Tuban yang memintanya tidak diskriminatif karena banyaknya anak dokter ikut pendidikan spesialis bedah. "Bagi saya, ini pergumulan jiwa yang berat," ujarnya.

Mungkin pergolakan batin itu pulalah yang membuat Tahalele tidak memaksakan kedua putrinya masuk kedokteran, meski sebagai guru besar ia mendapat jatah kapling itu.

Sebagai orang yang dilahirkan dari kalangan biasa, Tahalele yang pernah tidur di kantin fakultas selama enam bulan karena tidak mampu membayar ongkos kos itu sadar betul akan kesulitan hidup. Berbekal pengalaman itulah ia selalu terlibat kegiatan sosial, seperti menjadi sukarelawan penanganan korban banjir sampai ketua tim medis bakti sosial TNI AL.

Kini, meski secara fisik tidak lagi aktif sebagai relawan karena usia, dia bergerak di bidang lain. Tahalele aktif menghimpun dana untuk pasien miskin. Ia bagaikan oase di padang pasir mahalnya biaya kesehatan saat ini.

Selain memberi operasi gratis, ia mengupayakan pasien miskin mendapat bantuan biaya pengobatan selama dan pasca-operasi. Bersama tim dokter jantung, Tahalele tidak malu "mengemis" kepada para dermawan. "Operasinya gratis, tetapi peralatan dan obatnya kan tetap harus bayar," kata profesor yang selalu berpenampilan sederhana ini. ►e-ti/runik sri astuti, Kompas, Rabu, 26 Januari 2005.

Tentang Prof.Dr.Med.Paul Tahalele,dr.,Sp.B.,Sp.BTKV

Nama:
Prof. Dr. med. Paul Tahalele, dr.,SpB.,SpBTKV.,FCTS
Lahir:
Mataram, Nusa Tenggara Barat, 4 Maret 1948
Agama:
Kristen
Isteri:
drg Kustiani Hartiningsih

Pendidikan:
= Sekolah dasar di Bogor tahun 1960
= SMP di Mataram
= SLTA di Malang, Jawa Timur.
= S1 Fakultas Kedokteran Unair 1975
= Program pendidikan dokter spesialis (PPDS) bagian ilmu bedah dan lulus 1981
= Spesialisasi jantung 1987
= Program ilmu bedah jantung dengan judul disertasi Verhalten der Haemostase Unter Extrakoporale Zirkulation, Universitas Friederich Alexander Erlangen, Nuernberg, Jerman

Karir:
= Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya
= Kepala Laboratorium Ilmu Bedah Rumah Sakit Umum Dr Soetomo Surabaya
= Ketua Bagian Ilmu Bedah Umum FK Unair
= Ketua Program Studi Ilmu Bedah Unair
= Kepala Laboratorium Ilmu Bedah Unair

Kegiatan Lain:
Tim Kerja Persiapan UU Praktik Kedokteran

Organisasi:
Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Dokter Spesialis Bedah Indonesia

Hobi:
Renang dan aerobik

Alamat Kantor:
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Kampus A, Jalan Mayjend. Prof. Dr. Moestopo No. 47, Surabaya 60131, Telp. +62 (31) 5030251